
Langgur, sebanyak 104 Mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) secara resmi mengikuti Upacara Pengukuhan Dan Penggelaran Lulusan Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura, Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Sarjana Pendidikan (S1) Kabupaten Maluku Tenggara.
Acara bertempat di Aula Kantor Bupati Malra, (10/7/2026) dihadiri langsung Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun, didampingi Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam, Ketua DPRD Malra Stepanus Layanan.
Turut hadir, Ketua dan anggota Komisi II DPRD Malra, Plt. Sekda, serta sejumlah Pimpinan OPD Lingkup Kabupaten Maluku Tenggara.
Turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Pattimura, Prof. Dr. Dominggus Malle, M.Sc. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Universitas Pattimura sekaligus Ketua Pengelola RPL FKIP Unpatti Pror. Dr. Nur Aida Kubangun, M.Pd dan Wakil dekan bidang akademik Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Pattimura Profr Dr. Karolis Anakotta, Spd, MA.
Bupati Hanubun saat memberikan sambutan menyampaikan sebuah tesis sederhana.

Dikatakan pembangunan sebuah daerah pada akhirnya tidak diukur dari berapa besar anggaran yang dikelolanya, melainkan dari berapa tinggi kualitas manusianya.
Indeks Pembangunan Manusia mengajarkan kita bahwa kemajuan berdiri di atas tiga pilar — pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak.
“Yang istimewa hari ini, dalam satu majelis, kita menyentuh dua pilar utama itu sekaligus: pendidikan, melalui pengukuhan para sarjana FKIP; dan kesehatan, melalui kerja sama pendidikan dokter spesialis. Dan keduanya kita percepat dengan satu instrumen zaman “transformasi digital” melalui peluncuran Aplikasi MTH Smart. Maka forum ini bukan sekadar seremoni; ini adalah pernyataan arah pembangunan Maluku Tenggara.”tandas Bupati.

Bupati juga menjelaskan bahwasannya Maluku Tenggara adalah kabupaten kepulauan di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Kami hidup dalam apa yang saya sebut tirani jarak, geografi yang memisahkan pelayanan dari warganya, yang membuat biaya logistik tinggi dan akses menjadi mahal. Dalam kondisi fiskal yang terbatas, dengan pendapatan asli daerah yang kecil, kami menyadari satu hal secara jernih: daerah seperti kami tidak akan pernah menang dengan mengandalkan besarnya belanja.”Pungkasnya.
Menhadapi kondisi tersebut, Bupati Menegaskan hanya akan menang dengan mengandalkan kualitas manusianya. Bila tidak kaya dalam kapasitas fiskal, maka kami harus kaya dalam “modal insani”.
“Di sinilah letak kemitraan dengan Universitas Pattimura menjadi begitu strategis yakni ilmu pengetahuan adalah satu-satunya kekayaan yang tidak dibatasi oleh jarak dan tidak habis oleh keterbatasan anggaran.”ujar Bupati.
Tidak ada komentar