Langgur, Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun memberikan pesan tegas agar pengelolaan sumber daya alam, serta penataan birokrasi dapat memberikan dampak nyata demi pembangunan di daerah.
Pesan ini disampaikan Bupati saat memberikan pidato dan arahan pada Apel Pagi bersama seluruh Pimpinan OPD, ASN, P3K, lingkup Kabupaten Maluku Tenggara di lapangan Kantor Bupati, Kamis (12/2/2026).
Bupati Hanubun dalam arahannya mengatakan, dalam ilmu ekonomi pembangunan, dikenal fenomena yang disebut resource curse (kutukan sumber daya alam).
Intinya paradoksal: daerah yang kaya sumber daya alam justru cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi lebih lambat, kemiskinan lebih tinggi, dan tata kelola lebih buruk dibandingkan daerah yang justru miskin sumber daya.
“Apakah Maluku Tenggara mengalami hal ini? Saudara-saudara, renungkan sejenak.Kita duduk di persimpangan tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan posisi yang tidak dimiliki kabupaten lain di Indonesia. ,”tegas Bupati.
Sektor perikanan menyumbang hampir seperempat ekonomi daerah. Produksi perikanan tangkap melampaui target.
Malra ditetapkan sebagai sentra Tuna-Cakalang-Tongkol nasional. Kunjungan wisatawan melampaui target. Produksi perkebunan kelapa dan pala melampaui target. Kontribusi pariwisata terhadap PAD kita meningkat berlipat.
Berbanding terbalik dengan Kenyataan, Kemiskinan didaerah masih jauh di atas target.
Ketimpangan pendapatan yang diukur melalui Indeks Gini justru memburuk, bergerak ke arah yang berlawanan dari target.
Dari seluruh produksi perikanan yang melimpah itu, nelayan kecil yang kita berdayakan hanya menikmati sebagian kecil saja karena hampir seluruh produksi dikuasai pengusaha menengah dan besar. Produksi rumput laut jauh di bawah target, padahal lahan budidaya yang tersedia masih sangat luas.
Pengangguran justru naik dan tahun lalu, tidak dilaksanakan pelatihan bagi calon tenaga kerja. Koperasi yang aktif nyaris tidak ada dari ratusan koperasi yang terdata, hampir semuanya tidak mampu melanjutkan aktivitas usaha.
Itulah potret paradoks Maluku Tenggara. Tuhan telah menganugerahkan kekayaan yang luar biasa kepada Tanah Kei. Tetapi belum mampu mengubah anugerah itu menjadi kesejahteraan rakyat.
Mengapa ini terjadi?
Resource curse (kutukan sumber daya) terjadi karena tiga hal. Dan ketiganya berkaitan langsung dengan kinerja birokrasi dengan kinerja kita sebagai ASN:
Pertama, Institusi yang Lemah.
Program Prioritas Tata kelola adalah yang capaiannya paling rendah dari seluruh program prioritas kita.
Kedua, Pelayanan Publik yang Belum Memadai.
Pelayanan kesehatan di Malra masuk zona merah Ombudsman RI dengan skor kepercayaan masyarakat yang sangat rendah. Rata-rata lama sekolah anak-anak kita masih di bawah target. Nelayan yang sakit tidak bisa melaut. Anak yang tidak menyelesaikan pendidikan tidak bisa naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.
Ketiga, Infrastruktur yang Tidak Memadai.
Program Prioritas Infrastruktur adalah yang capaiannya terendah kedua hampir seluruh indikatornya tidak tercapai. Kemantapan jalan masih di bawah target. Desa yang terhubung jalan kondisi baik masih jauh dari harapan. Akses air minum layak justru turun. Hasil laut dijual murah ke tengkulak karena tidak ada cold chain, tidak ada akses pasar langsung.
Potret Keseluruhan
Secara keseluruhan, dari seluruh indikator yang kita tetapkan dalam sembilan Program Prioritas, kurang dari sepertiga yang berhasil tercapai.
“Saudara-saudara, ini bukan capaian yang bisa kita banggakan. Tetapi ini juga bukan capaian yang harus membuat kita putus asa.”pungkasnya.
Dari Arahan Presiden Menuju Aksi Kita
Bupati mengajak seluruh elemen untuk membuktikan bahwa Maluku Tenggara, dengan segala kekayaan yang Tuhan anugerahkan, layak menjadi daerah yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga sejahtera rakyatnya. Setara Mensejahterakan Negeri.
Tidak ada komentar