x

Ketika Danar Panggil Kita Pulang: Pekerjaan Sosial, Larwul Ngabal, dan Luka Kei 

waktu baca 5 menit
Minggu, 29 Mar 2026 02:07 74 Redaksi

 

Oleh : Hobarth Williams Soselisa

Konflik di Danar, Maluku Tenggara, bukan sekadar deretan peristiwa dalam kronologi berita; ia seperti seorang anak muda yang tersesat, berteriak di tengah malam, meminta didengar tetapi dijawab dengan batu dan api. Danar seperti rumah tua yang retaknya tidak pernah sungguh diperiksa: sedikit ejek, sedikit provokasi, sedikit minuman, lalu dinding sosial yang rapuh itu runtuh, meninggalkan puing-puing luka di antara keluarga yang sebenarnya masih saling mengenal nama.

Di tengah hiruk-pikuk suara sirene dan jerit histeris, Pekerjaan Sosial dipanggil bukan hanya sebagai profesi, melainkan sebagai wajah manusiawi dari negara dan gereja, dari adat dan hukum, yang datang untuk mengatakan: “Kita tidak boleh membiarkan Danar tenggelam dalam dendam.”  Pada saat amarah memuncak dan bentrokan pecah, Danar seperti terbakar demam tinggi. Tahap pertama yang dibutuhkan adalah “pertolongan (Rehabilitasi sosial secara komprehensif)” untuk menurunkan panas itu. Di sini pekerja sosial berdiri di garis tipis antara kepanikan dan ketenangan, mengumpulkan cerita di tengah suara tangis, mencatat siapa yang terluka, siapa yang kehilangan rumah, siapa yang kehilangan anak, dan siapa yang mulai menyimpan niat balas dendam.

Di rumah-rumah yang lampunya kembali remang setelah ricuh reda, pekerja sosial duduk bersama keluarga, mendengarkan kata-kata yang tersendat di tenggorokan: rasa marah, sesal, takut, dan hampa. Mereka bukan hakim yang menunjuk salah, tetapi sahabat yang menampung air mata, sekaligus jembatan yang menghubungkan korban dengan bantuan, layanan kesehatan, dukungan rohani, dan perlindungan keamanan. Di ruang lain, pekerja sosial mengetuk pintu para tokoh adat, pemimpin agama, dan aparat, memohon agar lahir kesepakatan gencatan senjata sosial: sebuah janji minimal bahwa malam-malam berikutnya tidak lagi diwarnai lemparan batu, parang, dan api.

Namun Danar tidak hanya butuh demamnya diturunkan; ia perlu diajak bicara tentang luka lama yang selama ini disembunyikan. Di tahap stabilisasi dan rekonsiliasi awal, pekerja sosial memfasilitasi ruang dialog di mana Danar boleh “bercerita” melalui mulut para warganya.

Pemuda, ibu-ibu, tetua adat, dan pemuka agama duduk melingkar, perlahan mengurai benang kusut: saling ejek di jalan, provokasi di media sosial, persaingan kecil yang dibiarkan membesar, rasa tersisih dari akses ekonomi, dan harga diri yang mudah terbakar. Di momen-momen seperti ini, nilai-nilai Kei yang selama ini hanya disebut dalam seremoni adat dihadirkan kembali sebagai bahasa hidup: rasa malu kolektif, hormat pada sesama, kesadaran bahwa “orang basudara” tidak diciptakan untuk saling mengubur.

Pekerja sosial menolong setiap pihak menemukan kata-kata baru untuk mengganti sumpah serapah: pengakuan salah, pernyataan penyesalan, kesediaan memaafkan. Dari proses ini lahir piagam damai—bukan sekadar lembaran kertas, melainkan cermin di mana orang Danar bisa melihat diri mereka yang terbaik: komunitas yang memilih berdamai ketika mereka sebenarnya punya cukup alasan untuk terus bertikai.

Disamping itu pula, Larwul Ngabal berdiri di tengah gelanggang seperti seorang nenek tua yang dihormati, mengangkat tangan dan berkata: “Ingat, sebelum kamu menjadi kelompok yang saling serang, kamu lebih dulu adalah satu darah.” Larwul Ngabal bukan hanya kumpulan pasal, melainkan ingatan bersama bahwa orang Kei diikat oleh falsafah manut anmehe tilur, fuut anmehe ngifun—berasal dari satu keturunan—dan ain ni ain, saling memiliki, sehingga melukai yang lain pada hakikatnya adalah melukai diri sendiri.

Dalam situasi seperti bentrokan pemuda di Danar yang dipicu makian sepele lalu berujung korban jiwa, Larwul Ngabal menawarkan bahasa lain di luar logika balas dendam: bahasa malu adat, tanggung jawab bersama, dan kewajiban memulihkan kehormatan kampung melalui perdamaian, bukan melalui kemenangan atas pihak lain.

Para raja, tokoh adat, dan tetua kampung dipanggil kembali menjadi arsitek rekonsiliasi: memimpin sumpah adat, menjatuhkan sanksi yang mendidik, dan merajut hubungan kekeluargaan yang sempat koyak. Di atas jembatan Larwul Ngabal inilah dua tepi yang retak—agama yang berbeda, kampung yang berhadapan, generasi muda yang meledak-ledak—dipertemukan lagi di satu tanah pijak: identitas Kei yang menjunjung adat sebagai pemersatu di atas semua perbedaan.  Tetapi perdamaian yang hanya hidup di ruang pertemuan dan foto seremonial akan cepat layu.

Danar menginginkan sesuatu yang lebih nyata: dapur yang kembali berasap, anak-anak yang kembali tertawa di sekolah, pemuda yang kembali sibuk bekerja bukan berlatih menyerang. Di tahap pemulihan dan pembangunan kembali, Pekerjaan Sosial menyentuh akar kehidupan sehari-hari. Keluarga yang rumahnya hangus tidak cukup diberi bantuan satu kali; mereka perlu didampingi untuk bangkit, mengakses program pemerintah, lembaga keagamaan, dan inisiatif masyarakat.

Pemuda dari kelompok yang sebelumnya berseberangan diajak bekerja dalam proyek yang sama—koperasi kecil, usaha perikanan, pertanian, atau jasa—agar mereka belajar bahwa rekan kerja dan “musuh lama” ternyata orang yang sama. Di sekolah dan rumah ibadah, pendidikan perdamaian dan literasi digital diperkenalkan dalam bahasa sederhana: bagaimana menahan tangan sebelum memukul, menahan jari sebelum membagikan provokasi, menahan lidah sebelum mengucap kata yang menusuk.

Seluruh perjalanan ini bertumpu pada cara pandang Pekerjaan Sosial yang melihat Danar sebagai ekosistem, bukan sekadar lokasi bentrokan. Konflik bukan hanya soal pemuda yang mudah naik darah, melainkan persilangan pengaruh keluarga yang letih, komunitas yang retak, ekonomi yang sempit, dan kebijakan yang sering terlambat menyapa.

Karena itu pekerja sosial bergerak di tiga lapis sekaligus: di ruang mikro, mereka menemani individu dan keluarga yang trauma; di ruang mezo, mereka menghidupkan kelompok pemuda, forum ibu-ibu, lembaga adat, dan jemaat sebagai penyangga perdamaian; di ruang makro, mereka mendorong pemerintah daerah dan desa menyusun aturan, anggaran, dan program yang memberi ruang seluas-luasnya bagi pemuda untuk berkarya, bukan berkelahi.

Di sinilah, Pekerjaan Sosial dan Larwul Ngabal menjelma menjadi suara hati Danar sendiri: suara yang berkata bahwa konflik ini bukan takdir, melainkan tanda bahwa kita lalai memelihara tenun sosial. Pada akhirnya, Danar tidak hanya meminta kita memadamkan api konflik; ia mengundang dan memanggil kita pulang, duduk di ruang tengah yang berantakan, dan bersama-sama membereskan rumah.

Pekerjaan Sosial, yang beriringan dengan Larwul Ngabal, menawarkan peta jalan: dari krisis menuju pemulihan, dari dendam menuju dialog, dari luka menuju pembelajaran. Tugas kita sebagai masyarakat Maluku, sebagai pemimpin dan pemuda, sebagai keluarga dan gereja, adalah memastikan bahwa panggilan itu kita jawab—bukan dengan janji kosong, tetapi dengan kerja nyata menjaga hubungan, mengelola perbedaan, dan merawat damai setiap hari.

Sebab ketika Danar kembali tenang, sesungguhnya yang sembuh bukan hanya satu desa, melainkan kehormatan kolektif kita sebagai orang Kei yang percaya bahwa konflik boleh datang, tetapi kekerasan tidak boleh dibiarkan tinggal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA