Gelar Musrenbang RKPD 2027, Potensi Perikanan di Kecamatan Hoat Sorbay dan KKB Jadi Fokus Utama

waktu baca 5 menit
Selasa, 3 Mar 2026 10:50 63 Redaksi

 

Langgur, Kecamatan Hoat Sorbay dan Kecamatan Kei Kecil Barat mengelar Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 bertempat di Ohoi Ohoira, Senin (2/2/2026).

Musrenbang tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam, didampingi Ketua Komisi III DPRD Malra Albert Efruan, Plh Sekda, serta sejumlah pimpinan OPD, dan Camat.

Sambutan Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun yang dibacakan Wabup Charlos memberikan apresiasi atas penyelenggaraan musrenbang ini dan menyebutkan bahwasannya Kecamatan Hoatsorbay dan kecamatan kei Kecil Barat digelar bersamaan karena satu alasan: kedua kecamatan ini diikat oleh satu hal yang sama yaitu “laut”.

Dikatakan laut memberi makan, Laut memberi penghasilan. Dan laut menuntut untuk menjaganya.

Hoat Sorbay -Warbal, tanimbar kei, ur pulau dan pulau-pulau lainnya adalah penghasil rumput laut Maluku Tenggara dan penghasil terbesar di seluruh kabupaten, yang telah diakui pemerintah pusat sebagai sentra budidaya nasional.

Sementara Kei Kecil Barat adalah penjaga rumah bagi kawasan konservasi laut.

ekosistem hutan mangrove, dan Desa Wisata Tanimbar Kei yang membuktikan bahwa menjaga alam bisa berjalan seiring dengan membangun ekonomi.

“Satu menghasilkan, satu menjaga. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.”Ucap Wabup.

Ia menegaskan jika hanya mengejar hasil tanpa menjaga, laut akan habis. jika hanya menjaga tanpa memanfaatkan, masyarakat tidak bisa makan.

Keseimbangan inilah yang harus menjadi roh pembangunan di kedua kecamatan ini.

Rumput laut adalah emas biru Maluku Tenggara. Teluk Hoat Sorbay menghasilkan rumput laut paling banyak di seluruh kabupaten dimana ratusan warga menggantungkan hidup dari bentangan tali-tali di perairan teluk ini.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah menetapkan kawasan ini sebagai sentra budidaya rumput laut nasional. Ini bukan pengakuan kecil namun amanah besar.

Di sisi lain, Kei Kecil Barat menyimpan kekayaan laut yang tak kalah berharga. Perairan Pulau Warbal dan Tanimbar Kei adalah area budidaya yang produktif sekaligus kawasan konservasi yang harus dijaga semuanya potensi wisata bahari yang dikembangkan tanpa merusak.

Untuk Hoat Sorbay adalah sumber air utama untuk seluruh daratan Pulau Kei Kecil termasuk Kota Langgur. Air yang diminum warga Langgur hari ini mengalir dari tanah Hoat Sorbay. Itu artinya kecamatan ini bukan hanya lumbung rumput laut, tetapi juga penjaga kehidupan bagi pulau ini.

Sementara Hoat Sorbay memiliki Goa Hawang, Pemandian Evu, dan Dian Wakat Park yang sudah dikenal wisatawan.

“Gabungkan semua ini, dan kita punya paket lengkap: produksi kelautan, wisata alam, dan pelestarian lingkungan.”cetus Wabup

Dana Desa tahun 2026 dipotong sangat besar oleh pemerintah pusat. Pada Oktober 2025, alokasi Dana Desa untuk 190 ohoi di kabupaten kita ditetapkan Rp121,6 miliar. Namun dengan terbitnya PMK Nomor 7 Tahun 2026 pada 9 Februari lalu, alokasi itu dipotong menjadi Rp52,1 miliar turun 58 persen.

Pemerintah daerah berusaha menutup kekurangan: Alokasi Dana Ohoi dari APBD Rp38,2 miliar, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Rp2,8 miliar (192 ohoi), BPJS perangkat ohoi Rp1,2 miliar. Total yang mengalir ke ohoi tahun ini sekitar Rp94,3 miliar. Kita semua tahu: ini tidak cukup.

“saya datang bukan membawa keluhan. Saya datang membawa pesan: laut kita tidak ikut dipotong. Rumput laut masih tumbuh di Teluk Hoat Sorbay. Ikan masih berlimpah di

perairan Kei Kecil Barat. Mangrove masih berdiri kokoh di Warwut.”

Kekayaan alam tidak mengenal krisis anggaran yang diperlukan adalah kecerdasan mengelolanya.

Pertama, gunakan setiap rupiah Dana Desa untuk hal yang langsung berdampak pada ekonomi masyarakat. Bukan seremonial, bukan proyek formalitas. Satu dermaga kecil yang memperlancar distribusi rumput laut jauh lebih berharga daripada sepuluh kegiatan yang tidak menyentuh kehidupan rakyat.

Kedua, bangun pendapatan ohoi dari kekayaan yang sudah ada di depan mata. Retribusi wisata alam, pengelolaan hasil laut melalui BUMOhoi, kerja sama dengan pengusaha pengolahan rumput laut ini bisa menjadi sumber pemasukan langsung tanpa menunggu transfer dari pusat.

Ketiga, jadikan keterbatasan sebagai cambuk untuk berinovasi. Masyarakat Hoat Sorbay dan Kei Kecil Barat sudah terbiasa hidup bersama laut tidak pernah menunggu izin untuk menanam rumput laut atau menjaga mangrove. Semangat mandiri itu harus terus menyala.

Satu: setiap ohoi harus menemukan perannya dalam ekosistem kelautan. Ada ohoi yang fokus budidaya, ada yang jadi pusat pengolahan, ada yang kembangkan wisata bahari.

Tidak semua harus sama justru keberagaman peran inilah yang membuat rantai ekonomi kuat.

Dua: jaga keseimbangan antara memanfaatkan dan melestarikan. Tradisi sasi adalah warisan leluhur yang sudah terbukti menjaga keberlanjutan. Dunia baru belajar soal konservasi orang Kei sudah melakukannya sejak nenek moyang.

Tiga: tingkatkan nilai tambah. Rumput laut jangan hanya dijual basah. Olah menjadi produk bernilai tinggi. Wisata alam jangan hanya mengandalkan keindahan – tambahkan cerita, edukasi, pengalaman budaya.

Satu kilogram rumput laut kering yang diolah menjadi produk kosmetik atau makanan olahan bernilai puluhan kali lipat.

Musrenbang bukan ajang membuat daftar belanja. Musrenbang adalah ruang menyepakati arah. Apakah bahwa kelautan berkelanjutan, kita sepakat konservasi ekosistem, dan kemandirian ekonomi ohoi adalah jalan utama kedua kecamatan ini?

Kalau sepakat, seluruh usulan harus bermuara ke sana. Dengan dana yang dipangkas, pilih prioritas yang paling mendesak dan berdampak paling luas.

Keberanian memilih adalah tanda kematangan.

Wabup juga menitipkan sejumlah pesan,

Kepada Kepala Ohoi: anggaran berkurang bukan berarti kepemimpinan berkurang. Justru di saat seperti inilah kualitas pemimpin ohoi diuji bukan dari besarnya dana yang dikelola, tetapi dari cerdasnya cara mengelola.

Kepada pemuda: laut adalah masa depan kalian.

Jadilah pembudidaya yang cerdas, pemandu wisata bahari yang profesional, atau pengolah hasil laut yang kreatif. Peluang tidak ada di tempat lain peluang ada di perairan depan rumah kalian.

Wabup juga menitipkan sejumlah pesan Kepada ibu-ibu: tangan kalian yang menjemur rumput laut, mengolah ikan, dan menjaga kebersihan pantai ekonomi. Teruslah berkarya. itu kontribusi nyata yang menggerakkan

“Kita bekerja dalam bingkai Setara Mensejahterakan Negeri. Apa yang dihasilkan laut Hoat Sorbay dan dijaga ekosistem Kei Kecil Barat, manfaatnya harus dirasakan oleh seluruh warga tanpa terkecuali.”paparnya.

Dana dipotong, tetapi laut tidak pernah berhenti memberi. Selama menjaga keseimbangan memanfaatkan dengan bijak dan melestarikan dengan sungguh-sungguh maka emas biru Maluku Tenggara akan terus menjadi sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA