Keindahan Pulai Kei, Kedatangan Pendayung Dunia “Louis Margot” Inspirasi Untuk Generasi Muda

waktu baca 5 menit
Senin, 9 Feb 2026 08:56 142 Redaksi

 

Langur, Keindahan nan Indah yang dimiliki Kepulauan Kei, selalu menjadi sorotan dan memberikan ketertarikan bagi seluruh warga lokal dan wisatawan mancanegara, terbaru kedatangan “Sang Penantang Alam,” yang melintasi samudera dengan menggunakan Perahu bertenaga Manusia akhirnya tiba di Kei, lebih spesifiknya di Pantai Ohoidertawun, Villa Manoa, kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tengara.

Louis Margot, seorang mantan atlet pendayung dunia yang berasal dari Swiss sedang berada dalam sebuah proyek besar menantang batasan manusia dalam projectnya yaitu “Human Impulse”, melintasi Samudera untuk berkeliling dunia dengan hanya sendirian dan mengunakan sebuah Perahu dengan bermesin dayung atau murni kekuatan manusia.

Konferensi pers Louis Margot bersama media di Vila Manoa, Ohoidertawun, memberikan banyak kesan dan kisah yang mampu memberikan kesan mendalam tentang kenyataan dan pengaruh media sosial, Sabtu (7/2/2026).

Louis dalam ceritanya mengatakan menghadapi banyak tantang sebelum memulai perjalanan panjang ini. Banyak hal yang harus dikorbankan, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga dan teman.

“Sebelumnya dalam kehidupanku di Swiss, hanya bekerja di kantor, dan pulang kerumah, tak ada rasa kehidupan, semuanya dilalui dengan cepat. Ini bukan hidup bagiku,”ucap Louis.

Dirinya sempat memiliki rencana untuk memulai sebuah project berkeliling dunia dengan sepeda dan mendayung, namun niatnya itu selalu tak bisa dilakukan. Hal itupun berubah ketika dia bertemu dan meminta nasehat dari seorang atlet yang sebelumnya telah berkeliling dunia lebih dulu darinya.

“Saat itu, cahaya yang kulihat dimatanya memberikan dampak kuat bagiku dan momen itulah yang membuatku memutuskan dengan sungguh-sungguh, Oh Inilah yang akan aku lakukan,”ucap Louis dengan semangat.

Dirinya akhirnya melakukan persiapan yang memakan waktu 1 tahun, mempersiapkan kendaraan perahu yang dia inginkan, berhenti dari pekerjaan sebelumnya, hingga mencari sponsorship yang mau mendukungnya.

Project perjalanan mengelilingi samudera akhirnya dimulai, dengan perjalanannya dan cerita – cerita yang dia temukan dalam perjalanan itu.

Louis menegaskan, tujuan dari project yang dia kerjakan ini adalah “Untuk memberikan motivasi kepada generasi muda, bahwa dalam kondisi apapun, kamu bisa melakukanya asalkan memiliki niat dan berusaha,”.

Louis mengungkapkan, selama melintasi samudera, dia harus bertahan sendiri dalam kesunyian, panasnya terik matahari, bertahan hidup hanya dengan memakan makanan kering, serta harus bertahan dengan cuaca, bahkan pernah diikuti seekor hiu selama sebulan.

“Saya harus terus mendayung, tidur disaat siang karena matahari, dan mendayung saat malam, dalam kesunyian, dengan cuaca yang tidak menentu, dan bahkan diikuti seekor hiu. Rasa depresi sering menghantui, rasa takut akan gagal, dan lainnya,”pungkasnya.

Namun semuanya itu tidak mematahkan semangatnya, bahkan, louis mengatakan, ketika melakukan perjalanan ini dirinya merasakan dan menemukan bahwasannya, leluhur-leluhur pada jaman dahulu dapat bermigrasi ke seluruh dunia, hanya bermodalkan perahu tradisional dan arah angin.

Hal ini menurut Atlet tersebut sangat makna yang mendalam.

Tiba di Kei
Kedatangan Louis di Kei , dijelaskan bahwasannya tidaklah direncanakan tetapi mengikuti arus laut akibat cuaca angin yang tidak bersahabat.

Louis menjelaskan, ketika dirinya bertolak dari raja Ampat, dia harus marus mengikuti arus laut lantaran tak mungkin untuk melawan angin karena hanya bermodalkan dayung manual.

Akhirnya setelah menghabiskan waktu sebanyak 14 hari dilautan, dia tiba di Kepulauan Kei, dan berlabuh di Pantai Ohoidertawun, Villa Manoa Kei.

“Sangat menakjubkan ketika tiba disini, sungguh indah panoramanya, dan tentunya saya sangat merasa seperti dirumah sendiri ketika disambut dengan hangat oleh masyarakat yang sangat baik,”ujar Louis.

Dalam Latar Alam dan Budaya yang Istimewa, Manoa Kei dengan hormat menyambut Louis Margot, pendayung samudra dan penjelajah asal Swiss, penggagas proyek Human Impulse sebuah perjalanan keliling dunia yang digerakkan sepenuhnya oleh kekuatan manusia, tanpa mesin maupun bantuan mekanis, bergantian antara mendayung di lautan dan bersepeda di daratan.

Kedatangannya di Kepulauan Kei merupakan sebuah pertemuan manusia sekaligus momen budaya yang beresonansi kuat dengan warisan maritim Austronesia di wilayah ini.

Melalui Human Impulse, Louis Margot menjalani perjalanan mengelilingi dunia dengan tenaga manusia sejauh hampir 40.000 kilometer, dengan tujuan melampaui rekor dunia saat ini yaitu 5 tahun 11 hari.

Mantan Juara Dunia Junior Dayung, ia telah menyeberangi Samudra Atlantik dengan perahu dayung sekitar 5.000 km seorang diri, lalu melanjutkan tahap paling menantang dalam perjalanannya: penyeberangan Samudra Pasifik, melebihi 11.000 km dan lebih dari 250 hari berturut-turut di laut, mengakumulasi lebih dari 300 hari kemandirian samudra dengan upaya fisik harian antara 8 hingga 14 jam.

Persinggahannya di Kepulauan Marquesas dan kemudian di Kepulauan Kei mengikuti koridor angin dan arus laut bersejarah yang dahulu digunakan oleh para navigator Austronesia, di mana angin musiman, bintang, dan aliran samudra memandu perjalanan ke arah barat selama musim timur.

Melampaui pencapaian atletik, perjalanannya membawa filosofi yang sangat manusiawi: melampaui diri sendiri, berdialog dengan kekuatan batin, dan kembali terhubung dengan asal-usul kemanusiaan yang esensial. Dengan memperlambat ritme dan bepergian dengan kecepatan manusia, laut kembali menjadi ruang pertemuan, ingatan, dan transmisi antarbudaya.

Keindahan Di sekitar Manoa, tebing dan ceruk batu Ohoidertawun juga menyimpan lukisan batu kuno yang dikaitkan dengan kehadiran awal masyarakat Austronesia di wilayah ini.

Siluet manusia, bentuk simbolis, dan kemungkinan representasi perahu menunjukkan bahwa pesisir ini telah lama menjadi tempat persinggahan, pengamatan, dan transmisi jauh sebelum zaman modern.
Dengan demikian, Manoa Kei berdiri di dalam lanskap di mana lingkungan, ingatan, dan budaya menyatu, menghubungkan hospitalitas masa kini dengan kesinambungan manusia yang telah berlangsung ribuan tahun.

Kepulauan Kei menempati posisi geografis yang unik di kepulauan Maluku. Selama musim timur, angin pasat timur yang stabil dan arus permukaan yang mengalir ke barat menciptakan kondisi alami yang menguntungkan untuk navigasi menuju Asia Tenggara.

Realitas iklim ini menggemakan sejarah migrasi Austronesia, ketika para pelaut membaca angin, bintang, dan pola samudra untuk menghubungkan pulau-pulau yang berjauhan. Kei tetap menjadi ambang maritim tempat geografi dan memori budaya bertemu.

Untuk menandai kedatangan Louis Margot dan merayakan warisan maritim Austronesia, Manoa Kei menyelenggarakan satu hari penuh pertemuan budaya yang mempertemukan perwakilan adat, musisi tradisional, pembuat perahu, perajin, dan komunitas dari berbagai desa di kepulauan.

Momen wawancara ini akhirnya diakhiri dengan berbagai acara sambutan nyanyian, musik, dan tarian tradisional dari Desa revav dan Kelanit, menyuguhkan hospitality dan bahkan ciptaan lagu berbahasa kei kepada louis.

Memberikan kesan yang hangat bagai dirumah baginya.

Louis mengatakan akan menghabiskan waktu 1 Bulan di Kei untuk menjelajah dan juga sekaligus beristirahat dan mempersiapkan perjalannya untuk ke Singapore agar bisa kembali ke Swiss

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA