Tahun 2018, Maluku akan Kirim Siswa Kuliah di Jerman

Tahun 2018, Maluku akan Kirim Siswa Kuliah di Jerman

71
0
BERBAGI

Ambon, Porosmaluku,com – Dipastikan mulai tahun 2018, Pemerintah Provinsi Maluku akan mengirimkan siswa-siswi lulusan SMA maupun SMK, untuk melanjutkan pendidikan di Jerman.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, kepada wartwana, usai pertemuan dengan Markus unsche selaku konsultan pendidikan dari Jerman, di Ambon, Kamis (9/3/2017).

“Kalau ada anggaran di Dinas Pendidikan, kita akan coba kirim tahun ini. Tapi kalau tidak ada, berarti dipastikan tahun depan baru program sekolah di Jerman ini, bisa jalan,” ujarnya.

Menurut Wagub, pada pertemuan itu diinformasikan bahwa para siswa yang akan dikirim bersekolah ke Jerman ini, biaya pendidikannya ditanggung oleh pemerintah Jerman, dan biaya hidup ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku sebagai pihak yang mengirim. Nantinya Hasil pertemuan ini akan dilaporkan ke Gubernur Maluku.

Terkait biaya dari Pemprov Maluku, Wagub katakan, akan dicek dulu ke Dinas Pendidikan. Sebab anggaran yang di Pemprov untuk tahun ini sudah jalan. Itu artinya musti dianggarkan. Nah untuk menganggarkannya tentu perlu persetujuan dan pengesahan dari DPRD Maluku. Dan karena tahun 2017 sudah jalan, jadi akan dianggarkan untuk tahun 2018.

Pihak Jerman sendiri, disebut Wagub, sengaja datang untuk menawarkan program ini di Maluku, dengan menjamin mutu dan kualitas pendidikan yang sangat baik di sana.

“Kita diberikan kepercayaan untuk mengirimkan anak-anak Maluku ke Jerman, tapi tentunya harus melalui sebuah seleksi. Konsekwensinya, anak-anak kita yang kita kirim ini, harus anak-anak yang baik. Sebab kalau kita kirim tidak baik, berarti biaya itu akan hilang percuma,” tandas Wagub.

Pada kesempatan itu, Wagub mengusulkan, saat hendak diberangkatkan, sebaiknya dibuat fakta integritas. Artinya siswa-siswi yang dikirim pada program ini, jika di sana dia tidak mampu lalu harus kembali, terpaksa dia musti kembalikan dana yang sudah dikeluarkan pemerintah.

“Sebab kita kirim itu ada hasil yang baik untuk mereka yang dikirim, tetapi juga untuk pembangunan daerah kita. Itu artinya anak-anak yang akan kita kirim nanti, adalah anak-anak yang betul-betul teruji,” harap Wagub.

Berapa banyak siswa-siswi yang akan dikirim dalam program ini, menurut Wagub, sangat bergantung hasil test nanti.

“Teman-teman musti tahu bahwa saya dan Pak Gub ini selalu memperhatikan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Baik itu dikirim di dalam negeri maupun luar negeri. Supaya mereka bisa ikut membangun daerah Maluku, yang merupakan bagian integral dari Indonesia,” tegas.

Sementara itu konsultan pendidikan asal Jerman Markus Wunsche, mengaku senang mendapat respon baik dari Pemprov Maluku. Meski dia mengakui untuk merealisasikannya, memangharus banyak dibicarakan lagi dan banyak yang diurus lebih lanjut.

Menurut Markus, sosialisasi mengenai pendidikan di Jerman ini, sudah dilakukan sejak tahun 2013 di Ambon dan beberapa sekolah di Maluku Tenggara. “Sosialisasinya di Ambon, seperti SMA 1,  SMA 2, SMA Xaverius, SMA Siwalima, SMA 13 dan SMA Kalam Kudus. Itu juga akan di follow up, tapi kita tunggu tindak lanjut dari Pemerintah Provinsi. Dan tindak lanjut itu akan ada dalam bentuk tes seleksi,” ujarnya.

Pelopor studi Indonesia – Jerman sejak tahun 1997 ini katakan, di Jerman sendiri sudah punya lebih 7.000 student dari Indonesia, tapi yang lebih banyak itu dari jalur pribadi. Kalau yang melalui jalur kerja sama dengan pemerintah itu, dari Manokwari, Papua.

“Sebenarnya kami sudah punya berapa student yang berasal dari Maluku, yang sementara bersekolah di Jerman. Tetapi sebagian besar masih melalui jalur pribadi. Kali ini kami ingin Pemerintah Provinsi yang menolong dengan biaya hidup, sedangkan pemerintah Jerman membayarkan biaya pendidikannya,” terang Markus.

Pihaknya, lanjut Markus, sangat berharap dukungan biaya hidup bagia siswa-siswi yang akan kuliah di Jerman, sebab harus deposit uang di rekening mereka. Bukan harus dibayarkan ke mana-mana, tapi harus ada di rekening mereka sendiri, untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Ditanya soal syarat kuliah di Jerman, dia mengaku sangat simple. Siswa-siswi harus dinyataka lulus dari sekolah dengan nilai rata-rata 6,0. Kecuali untuk kuliah kedokteran, syarat nilai minmum 8.

“Kami sengaja menawarkan ke Jerma, karena disana memang banyak kelebihan. Yang pertama, Pendidikan geratis dari pemerintah jerman, namun biaya hidup ditanggung sendiri. Di Jerman Kita belajar 90 persen dengan professor. Kalau kita mau maju dan berkembang lebih baik, harus lewat pendidikan, dengan pendidikan yang berkualitas. Tidak ada cara lain,” Ujar lelaki asal jerman yang datang ke-Indonesia sejak tahun 1992 ini. (PM-05)

BERBAGI

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY