Pers Berperan Sebagai Anjing Penjaga.

Pers Berperan Sebagai Anjing Penjaga.

3
0
BERBAGI

AMBON,POROSMALUKU.COM ; Pers menjadi sebuah tiang penopang yang melengkapi tiga pilar eksekutif, legilatif dan yudikatif , ketika trias politika saling berselingkuh satu sama lain ,pers hadir dan berperan sebagai Anjing penjaga masyarakat dalam mengawasi dan mengontrol kerja para penguasa, ungkap wartawan senior sekaligus sastrawan Rudi Fofid yang membawa materi tentang jurnalisme damai dalam kegiata sosialisasi penggunaan Bahasa Indonesia bagi jurnalis yang di ikuti puluhan Wartawan yang berlangsung di kantor LPMP Maluku, selasa (24/08/2018).

Ujung tombak dari misi mulia pers ini adalah wartawan. Wartawan adalah profesi yang terhormat. Profesi ini menuntut pengetahuan dan keahlian dalam melaksanakan tugasnya sehingga produk yang dihasilkan disebut sebagai produk intelektual, sebab tanpa memiliki pengetahuan dan keahlian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pers dan jurnalistik, ia tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Wartawan harus profesional karena wartawan yang merupakan aktor utama lembaga pers ini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi publik melalui informasi, selain itu wartawan memiliki serangkaian hak istimewa dalam menjalankan profesinya.

Tuntutan profesionalisme yang tinggi pada diri wartawan akan menimbulkan pada dirinya sikap menghormati martabat setiap individu dan hak-hak pribadi warga masyarakat yang diliputnya. Demikian pula sebaliknya, seorang wartawan akan dapat menjaga martabatnya sendiri karena hanya dengan cara itu ia akan mendapat kepercayaan masyarakat dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan profesional.

Untuk mencapai hal ini, wartawan perlu memiliki kedewasaan pandangan dan kematangan pikiran. Wartawan harus memiliki landasan unsur-unsur yang sehat tentang etika dan rasa tanggung jawab atas perkembangan budaya masyarakat di mana wartawan itu bekerja. Oleh karena itulah disusun etika pers atau kode etik jurnalistik. Kode etik ini merupakan bimbingan moral dan pedoman kerja para wartawan. Rumusannya merupakan prinsip-prinsip dan cita-cita ideal yang tinggi. Profesionalisme wartawan diukur dari kepatuhannya mengikuti kode etik.

Kepala Kantor Bahasa Maluku, Dr Asrif. M.Hum dalam arahannya mengakui lembaga bahasa pada zaman belanda di dirikan oleh para jurnalis, hal ini disebabkan ketidaksatuan bahasa karena suku yang ada di setiap daerah menggunakan bahasanya masing-masing.

“Masyarakat yang ada di Indonesia Timur dengan bahasanya masing-masing, begitu juga Indonesia Barat, dan Tengah, maka perlu dibentuk lembaga bahasa agar tercipta satu bahasa agar pembaca bisa lebih mengerti,”ujarnya.

Namun seiringnya, penggunaan bahasa Indonesia terasa tidak terlau dipakai, karena masuknya bahasa dari Negara lain, bahkan bahasa Indonesia yang dingunakan dalam pemberitaan media, tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik. “Olehnya itu, kami merasa perlu melakukan kegiatan ini, dalam menciptakan kalimat yang mudah dipahami oleh masyarakat,”tuturnya.

Walaupun demikian, dirinya menyadari jurnalis daring bekerja begitu cepat sehingga potensi kesalahan begitu besar terjadi. Karena dalam memposting berita tanpa melalui editor. Untuk itu, dirinya berharap kedepan dalam pemberitaan Jurnalis bisa menyajikan Bahasa Indonesia yang baik, dan mudah dimengerti oleh masyarakat, ujarnya (PM-02)

BERBAGI

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY