Menerima Gelar Adat Maluku, Tanggung Jawab Jokowi Sejahterakan Rakyat

Menerima Gelar Adat Maluku, Tanggung Jawab Jokowi Sejahterakan Rakyat

33
0
SHARE

Ambon, Porosmaluku,com – Akhirnya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan gelar Upu Kaletia Kenalean Dantul Po Deyo Routnya Hnulho Maluku yang artinya Bapak Pemimpin Besar yang Peduli Terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat Adat Maluku dari Majelis Latupati Maluku, setelah Ke-empat kalinya menginjakkan kakinya di bumi raja-raja, di Christian Center, Jumat (24/2/2017).

Jokowi merasa memiliki tanggung jawab untuk turut mensejahterahkan masyarakat di Maluku.

Gelar tersebut diterima dengan tanda pasawari adat yakni pemasangan jubah kebesaran, kain ikat pinggang, kain bahu, mahkota kebesaran dan pemberian tongkat adat kehormatan sebagai penanda penganugerahan gelar yang dilakukan langsung oleh Ketua Majelis Latupati Maluku, Bonifaxius Silooy.

Saat membacakan sambutannya, Jokowi merasa sangat terhormat sekali dengan gelar adat yang ia terima dan mengucapkan terima kasih atas penganugerahan gelar adat kehormatan Maluku kepada dirinya.Ia pun mengaku memahami bahwa gelar untuk dirinya disertai dengan tanggung jawab untuk memajukan Maluku dan menyejahterakan masyarakat dan rakyat Maluku.

“Saya merasa sangat terhomat sekali dan terima kasih atas penganugerahan gelar adat kehormatan Maluku kepada saya. Saya pahami bahwa gelar ini disertai dengan tanggung jawab kita semuanya untuk memajukan Maluku dan mensejahterahkan masyarakat Maluku,” ungkap Jokowi sebelum membuka acara Musyawarah Besar Latupatti III.

Ia membacakan sebuah pantun dalam bahasa Maluku, yang artinya walaupun berada jauh dari Maluku, namun orang Maluku akan selalu dihati.

“Panah gurita di ujung tanjong. Cari bia di ujung meti. Biar tapisah gunung deng tanjong. Orang Maluku selalu di hati, Tabea,” kata Jokowi.

Menurutnya dengan adanya gelar adat ini maka itu artinya, ia menjadi bagian dari laboratorium perdamaian di Maluku. Daerah yang kearifan lokalnya berbasis persaudaraan, daerah yang kearifan lokalnya berbasis persaudaraan pela gandong, menggunakan falsafah siwalima yang menyatukan semua perbedaan kelompok menjadi kekuatan perekat yang abadi.

“Sejarah sudah menyaksikan bagaimana kearifan lokal Maluku dapat dengan cepat memulihkan keadaan pasca terjadinya konflik sosial pada waktu yang lalu. Saya berharap, Musyawarah Besar Para Latupati se-Maluku hari akan dapat terus merawat kebinekaan, kemajemukan yang ada di Maluku dan di negara kita. Mengikat keharmonisan yang ada dan membingkai perdamaian Maluku dalam semangat hidup orang bersaudara,” ujarnya. (PM-05)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY