Ibu Beranak Lima ini Jalani Hidupnya Dengan Penderitaan

Ibu Beranak Lima ini Jalani Hidupnya Dengan Penderitaan

123
0
SHARE

SBB, Porosmaluku,com – Malang nian nasib yang dialami Alwiyah Patty (35). Ibu rumah tangga yang memiliki lima orang anak ini, sejak 2011 lalu, keseharian hidupnya dilalui dengan penuh penderitaan. Derita yang dialami bukan saja bathin, namun juga derita fisik. Hal itu terjadi, karena dia sedang mengidap penyakit infeksi tulang yang sudah cukup kronis dibagian kaki.

Saat ini kondisi fisik Alwiyah sendiri, sudah tidak lagi normal sebagamana manusia sempurna pada umumnya. Dari hari ke hari, buah kaki kirinya terus mengalami kekurusan, hingga yang nampak hanya kulit membungkus tulang.

Selain itu, Istri dari Azis Hadeo (35) ini, ternyata hanya memiliki sebelah kaki yakni kiri. Sedangkan kaki sebelah kanan miliknya, telah dia relakan untuk diamputasi pada tahun 2012 lalu.

Ketika ditemui wartawan di rumahnya, di Gang Lordu, Negeri Latu, Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Selasa (18/4/2017), Alwiyah tampak sedang duduk lesuh tidak berdaya diatas kursi roda. Ia ditemani oleh dua anak perempuannya yang masih Balita.

Berada tepat dibawah sinar matahari yang menembus atap rumah berbahan daun sagu, Alwiyah hanya terlihat pasrah sambil sesekali mengerang merasakan sakit yang menjalar ke sekujur tubuh, akibat luka infeksi tulang yang telah membusuk di telapak kaki serta bagian tumit.

Alwiyah diketahui memang sedang mengkonsumsi obat rekomendasi dari dokter. Namun obat tersebut, juga tidak lagi mampu menghilangkan rasa sakit, apalagi sampai mau menyembuhkan lukanya.

Kadangkala, guna menghilangkan sakit yang sedang memuncak, sesekali dia mengakali hal itu dengan mengajak anak-anaknya bercanda atau membuat sesuatu yang bisa mengalihkan rasa sakit tersebut.

Alwiyah mengaku sudah tidak tahan menanggung sakit. Terkadang dia berharap semoga azal cepat menjemputnya. Namun dalam kepasrahannya itu, dia teringat akan nasib ke-lima anaknya yang masih kecil-kecil. Atas dasar itu, dengan semampu tenaga, dia mencoba melawan segala takdir yang sedang dihadapi. Ada teguh yakin dihatinya, bahwa untuk bisa mengakhiri penderitaannya itu, satu-satunya jalan adalah kaki kiri yang sudah terinfeksi itu, harus segera diamputasi.

Lantas, ketika wartawan menanyakan, kenapa tidak diamputasi, Alwiyah seketika diam membisu. Tak tahan dengan kesedihan yang terpendam lantaran ketidakmampuan ekonomi, dia akhirnya menangis lirih.

“Jujur saja, beta jua seng tega lia beta punya maitua menderita kaya bagini. Katong sekeluarga, sangat berharap agar Wiyah cepat sembuh. Katong juga sangat mau kalo Wiyah punya kaki ini, harus segera di amputasi. Cuma itu, operasi amputasi itu akang butuh biaya seng sadiki. Katong mau dapat uang banya-banya itu dari mana,” keluh suaminya, Azis Hadeo, dengan dialek Maluku.

Hadeo mengatakan, sejak istrinya sakit, dirinya tidak pernah berpergian untuk bekerja, ia lebih banyak habiskan waktu untuk merawat istrinya yang sedang menderita.

“Jujur, sejak Wiyah sakit dari tahun 2015 itu, saya tidak keluar daerah untuk bekerja. Saya lebih banya habiskan waktu dirumah untuk merawat Wiyah (Istrinya). Kalaupun ada kesempatan, saya cuma bisa ke kebun, mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya mau kaluar Daerah, sementara anak-anak masih kecil-kecil dan Wiyah punya kondisi seperti ini, siapa mau urus mereka. kalau sampai untuk operasi, kami hanya pasrah,” tambahnya datar dengan bibir sedikit bergetar.

Menurut Hadeo, pada tahun 2016, dengan bermodal kartu BPJS, mereka pernah mengadu nasib ke Rumah Sakit Bhayangkara Tantui, RST (Rumah Sakit Tentara) bahkan RSUD Haulussy Ambon untuk meminta dilakukannya operasi amputasi.

Sayangnya, pihak rumah sakit tidak bersedia melakukan hal itu. Tidak tahu apa alasannya, namun sebagai pengganti operasi, pasien Alwiyah hanya diberikan pelayanan kesehatan biasa.

Setelah beberapa waktu kemudian, saat dicek, rupanya manajemen dari tiga rumah sakit itu tidak mau melakukan operasi amputasi, lantaran pasien hanya berobat dengan BPJS.

Lebih jauh Hadeo mengisahkan, penyakit infeksi tulang yang diidap istrinya itu, telah ada sejak penderita masih berusia remaja. Masa itu, bagian fisik yang pertama kali terinfeksi adalah ujung jari kaki sebelah kanan.

Katanya, ada seorang mantri saat mengetahui kalau tulang kaki milik Alwiyah telah terinfeksi, dia pernah menyarankan ke orang tuanya, supaya bagian kaki yang sudah terinfeksi itu segera dipotong. Namun apalah daya, lagi-lagi karena biaya.

Akhirnya, pada tahun 2010, kaki sebelah kanan milik Alwiyah, secara perlahan mulai membusuk. Bersamaan dengan itu, tulang-belulang dibagian jari-jemari kaki, juga retak satu persatu. Hingga akhirnya, berkat pertolongan sejumlah pihak, pada tahun 2012, dokter berhasil mengamputasi kakinya yang sebelah kanan.

“Setelah operasi, Wiya pung kondisi sudah membaik. Biar berjalan dengan tongkat, tapi dirinya masih bisa selesaikan beberapa tugas selaku ibu rumah tangga.

Namun beberapa tahun kemudian, memasuki tahun 2015, dirinya mulai mengalami sakit parah di kaki sebalah kiri. Dan pada tahun 2016 hingga sekarang, Kakinya mulai bengkak dan akhirnya berubah jadi luka besar dibagian dalam telapak kaki.

Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istri beserta anak-anaknya, Hadeo tentu akan gigih berjuang demi menyembuhkan penyakit Alwiyah. Tapi, semua itu mau dilakukan dengan jalan apa? Dia sendiri, hanya seorang petani kampung yang tidak punya penghasilan tetap.

“Memang solusinya itu, harus amputasi. Tapi kendalanya itu, kami tidak punya uang. Jadi mau bagaimana. Saya sering beritahukan Wiya, supaya dia tetap sabar. Tidak boleh berhenti berdoa, ikhlaskan semuanya ke Allah SWT,” ujarnya, dengan penuh harap semoga ada pihak tertentu yang mau bersedia membantu susahnya. (PM-05)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY