Fakta Kebinekaan Telah Menjadi Jati Diri Orang Maluku

Fakta Kebinekaan Telah Menjadi Jati Diri Orang Maluku

31
0
BERBAGI

Ambon, Porosmaluku,com – fakta kebinekaan yang menjadi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia telah menjadi identitas dan budaya orang Maluku selama ini.

Hal ini disampaiakan oleh Gubernur Maluku, Said Assagaff, saat acara penutupan Tanwir Muhammadiyah di Ambon, Minggu (26/2/2017).

“Bagi kami orang Maluku, fakta kebinekaan yang ada sudah merupakan bagian dari identitas kebudayaan kami,” ujarnya.

Gubernur mengungkapkan, dari perspektif historis, sebagai the spices island  (pulau rempah-rempah), yang menghasilkan beraneka rempah-rempah sejak dahulu, Maluku sudah menjadi tempat perjumpaan pelbagai peradaban di dunia serta terbangun jalinan Nusantara.

Nusantara terbukti telah menjadi wilayah kontestasi pelbagai kepentingan dagang dan politik dunia, terutama Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang, Arab, China, dan India.

“Kondisi ini telah menjadikan Maluku sebagai masyarakat yang sangat multikultural. Kami memiliki kurang lebih 100 subsuku dan subetnik, 117 buah bahasa dan dialek, selain 6 agama resmi dan agama-agama suku,” ungkapnya.

Gubernur menyebutkan, keberagaman itu dapat dilihat dari marga atau fam yang ada di Maluku. Selain ada ratusan marga atau fam lokal, terdapat juga puluhan hingga ratusan marga yang merupakan akulturasi dengan budaya luar.

Misalnya, kata Gubernur, dari keturunan Sulawesi Selatan menggunakan fam Bugis atau Makassar, dari Sulawesi Tenggara menggunakan inisial La atau Wa, dari Sumatera menggunakan marga Padang, Palembang.

“Dari Arab ada yang pakai fam Al-Idrus, Basalamah, Attamimi, Bahsoan, dan Assagaff seperti saya. Dari Belanda ada yang pakai fam marga Van Afflen, Van Room, De Kock, Ramschie, Payer, dll,” kata Said.

Gubernur meneruskan, Dari Portugis ada yang pakai fam Da Costa, De Fretes, De Lima, Fareire. Said mengaku, dari hasil akulturasi itulah muncul pelbagai khazanah seni budaya di daerah Maluku.

Misalnya akulturasi budaya lokal dengan Islam atau Arab, seperti Abda’u di Tulehu, Pukul Sapu di Mamala-Morela, Tarian Sawat, dan sebagainya.

Akulturasi budaya lokal dengan Arab dan Melayu seperti tarian dana-dana. “Sementara akulturasi budaya lokal dengan Barat, seperti tari katreji, musik Hawaian, tarian oralapei, dansa ola-ola, dan tarian cakaiba,” katanya.

“Walaupun berbeda, kami semua merasa bersaudara atau orang basudara,” paparnya.

Menurut Gubernur indahnya merawat persaudaraan sejati di Maluku dapat dilihat pada dukungan dan partisipasi aktif seluruh umat beragama dalam kegiatan Tanwir Muhammadiyah di Kota Ambon.

“Itulah Maluku sesungguhnya. Walaupun berbeda tetap Beta Maluku jua,” ucapnya. (PM-05)

BERBAGI

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY