Banyak Kasus Cerai Karena Vitalitas Pria Menurun

Banyak Kasus Cerai Karena Vitalitas Pria Menurun

103
0
BERBAGI

Pengadilan Agama Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengemukakan alasan perceraian pasangan suami-istri, antara lain masalah biologis seperti menurunnya vitalitas pria atau suami.

“Ini menjadi tren baru dalam kasus gugatan perceraian sejak 3 tahun terakhir,” kata Kepala Bagian Humas Pengadilan Agama Kabupaten Sleman Marwoto di Sleman, Senin (28/3).

Menurut dia, pada tahun 2013 sebagai hakim dirinya tidak menemukan kasus perceraian akibat vitalitas suami yang menurun. Namun, pada tahun 2014 terjadi tiga kasus.

Kemudian, pada tahun 2015 perceraian akibat perkara tersebut jumlahnya meningkat, yakni di atas lima, masih di bawah sepuluh kasus.

Ia mengatakan bahwa para pria yang mengalami masalah seksual bukanlah pengangguran. Mereka kebanyakan sudah memiliki status sosial yang tinggi dan mapan.

Rata-rata penyebab perceraian akibat vitalitas pria menurun, kata dia, diketahui saat persidangan, bukan saat mediasi.

“Jadi, memang jelas masalahnya. Namun, pengajuan cerai akibat hal ini belum tentu dikabulkan sebab suami masih bisa diupayakan untuk sembuh,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini menngatakan bahwa kondisi tersebut merupakan perkara yang kasuistis dan tidak selalu terjadi.

Meskipun jumlahnya meningkat, menurut dia, kejadiannya relatif sedikit dan dapat ditanggulangi oleh berbagai cara.

“Kami sendiri mengimbau pasangan suami-istri kembali pada komitmen pernikahan itu untuk tujuan apa? Pernikahan bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologis,” katanya.

Menurut dia, dalam pernikahan ada hal lain yang hendak dicapai, seperti berketurunan dan menciptakan keluarga yang harmonis sehingga mampu memunculkan generasi penerus bangsa yang baik.

“Maka dari itu, kelanggengan hubungan suami istri harus dipertahankan. Apalagi, jika sudah memiliki anak,” katanya.

Untuk mencegah penurunan vitalitas pria, pihaknya lebih fokus pada upaya promotif preventif pada masyarakat, antara lain dengan menerapkan pola hidup yang sehat.

“Sebagai contoh, tidak melakukan berkebiasaan merokok, tidak mengonsumsi narkoba, olahraga teratur, dan makan makanan yang sehat,” katanya. (*)

BERBAGI

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY